Selamat Datang
Tampilkan postingan dengan label Tugas Media Jurnal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas Media Jurnal. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 November 2013

BELAJAR DAN PEMBELAJARAN#

A.    Pengertian Belajar :

    Upaya untuk mengetahui
Tahu ( mengerti , paham , atau sesuatu objek mampu kita pahami baik beraspek abstrak atau sesuatu yang beraspek konkrit ).
    Upaya untuk menguasai
Menguasai aspek-aspek yang terdapat didalam suatu pokok permasalahan,dan menguasai betul-betul apa yang sedang menjadi pembahasan.
    Upaya untuk memahami
Yakni unsur pengetahuan dan penguasaan dari sesuatu ,namun tidak hanya mengetahuinya saja tetapi banyak alternatif lainya yang dipahami.

B.    Pengertian Pembelajaran :
Suatu proses yang dilakukan sacara sistematis perihal belajar dalam rangka mencapai suatu tujuan melalui upaya belajar.
Ada 3 teori yang mendasari seorang anak dalam proses belajar, didalam belajar terdapat hal-hal yang mendasar yang merupakan pandangan tentang bagaimana seseorang berhasil mengetahui , menguasai , dan memahami sesuatu. Ketiga teori tersebut adalah sebagai berikut :
a)    Aliran Nativisme ( Watson )
Pandangan ini menyatakan bahwa semua anak yang lahir telah memiliki potensi , bakat , dan minat yang dibawah sejak lahir, sehingga anak yang belajar hanyalah mengembangkan potensi yang sudah ada.

b)    Aliran Empirisme ( John Coeke )
Pandangan ini menyatakan bahwa seorang anak yang lahir seperti kertas kosong  tetapi mereka dipengaruhi oleh lingkunganya,apabila nak berada dalam lingkungan tertentu,maka lingkungan itulah yang mempengaruhinya. Dalam konteks belajar peran pendidik ( guru ),orang tua atau tutor dengan berbagai kondisi lingkungan sangat menentukan proses penguasaan dan pemahaman anak , dengan kata lain lingkunganlah yang membentuk pribadi dan kompetensi anak.

c)    Aliran Konvergensi ( Williem Stren )
Aliran ini menyatakan bahwa,setiap nak yang lahir telah membawah potensi dan dikembangkan oleh lingkunganya. Aliran ini memadukan pandangan Nativisme dan Empirisme yang kemudian dikembangkan menjadi teori belajar individual dan kelompok. Ketika anak percaya bahwa anak yang belajar memiliki 3 modalitas belajar yang memungkinkan mereka terbantu didalam menguasai dan memahami berbagai hal, ketiga modalitas tersebut adalah sebagai berikut :
    Modalitas Visual
Yaitu yang berhubungan dengan kemampuan anak  menggunakan penglihatanya didalam menguasai sesuatu.
    Modalitas Audial
Yaitu yang berhubungan dengan kemampuan anak  menggunakan penyimakanya dalam menguasai sesuatu.
    Modalitas Kinestetik
Yaitu yang berhubungan dengan kemampuan anak menngunakan alat geraknya atau peragaa didalam memahami sesuatu.
Selain pandangan tersebut didalam belajar dan pembelajaran pandangan KI HAJAR DEWANTARA yang mengembangkan bahwa anak yang belajar perlu didorong , desemangati , dan diberikan contoh-contoh, yaitu :
1)    Ing Ngarso Sungtulodo ( kalau kita didepan kita harus memberikan contoh )
2)    Ing Madya Mang Karso ( kalau kita ditengah kita harus memberikan semangat )
3)    Tut Wuri Handayani (kalau kita dibelakang,maka kita harus memberikan dorongan)


C.    Jenis-Jenis Teori Pembelajaran
Terdapat  4 teori belajar yang dijadikan sebagai landasan didalam melaksanakan pelajaran:
1.    Teori behaviorisme mengatakan belajar itu adalah aktivitas setiap individu yagn berdasarkan pada pendalaman atau pembiasaan.
2.    Teori kognitivisme mengatakan belajar merupakan proses mengubah tingkah laku yang di tentukan oleh pemahaman (persepsi).
3.    Teori psikososial mengatakan bahwa belajar adalah suatu proses alami yang di tandai dengan rasa ingin tahu, menyerap informasi, mengambil keputusan dan memecahkan masalah yang ada didalam kehidupan manusia.
4.    Teori belajar gagne. Teori ini memadukan antara pandangan behaviorisitk dengan kognitifisik.

D.    Prinsip Pendekatan Belajar

Prinsip pendekatan belajar yaitu sebagai berikut :
1.    Pendekatan konsep yaitu pendekatan dimana guru yang banyak menentukan arah pembelajran yang didasarkan pada pandangan-pandangan atau konsep.
2.    Pendekatan proses yaitu siswa dilibatkan secara aktif didalam intfraksi belajar mengajar.
3.    Pendekatan deduktif yaitu menjelaskan sesuatu dari yang umum ke yang khusus.
4.    Pendekatan induktif yaitu memberikan penjelasan-penjelasan sampai ke contoh-contoh pada peserta didik. Mencoba membedakan hal-hala yang paling kecil dan contoh-contoh.
5.    Pendekatan ekspositori yaitu sesuatu yang bersifat bersama-sama. Suatu proses selalu bersama berbicara antara guru dan siswa.
6.    Pendekatan heuristik yaitu anak-anak yang selalu terlebih dahulu memulai. Akan tetapi anak-anak harus diberikan referensi yang mudah dimengerti agar siswa tidak berfikir terlalu jauh.
7.    Pendekatan kecerdasan yaitu mengetahui tingkatan IQ siswa.
8.    Pendekatan kontekstual yaitu bahwa semua pembelajaran harus dihubungkan dengan suasana lingkungan.


E.    Aktivitas Belajar
Didalam belajar terdapat keaktifan Baik secara fisik maupun secara psikis. Hal-hal yang aktif dalam prosesbelajar baik secara indrawi maupun kejiwaan,beberapa ahli menyimpulkan sebagai berikut :
1.    Pengamatan indra yang meliputi
    Penglihatan
    Pendengaran
2.    Tanggapan yaitu suatu proses kejiwaan yang memberikan reaksi terhadap apa yang diperoleh dari suatu pengamatan yang dapat diterima atau ditolak,semakin banyak tanggapan dalam pembelajaran,maka semakin banyak juga pemahaman,tanggapan juga ditentukan oleh konteks ( bayang-bayang dari seseorang dari hasil pengalaman pengindraan ).
3.    Fantasi yaitu aktivitas imajinasi untuk membentuk  produksi tanggapan baru,berdasarkan tanggapan lama.
4.    Ingatan adalah reproduksi yang tersimpan didalam benak seseorang atau biasa juga disebut proses pengaktifan kembali, hal-hal yang pernah dialami proses ingatan terbagi 3 yaitu : mencamkan , menyimpan kesan , memproduksi kembali .
5.    Pikiran yaitu kondisi hubungan antara bagian pengetahuan yang ada, dalam diri yang dikontrol oleh akal,jadi akal itu mengendalikan pikiran .
6.    Perhatian,suatu aktivitas psikis yang berfokus pada sesuatu .
7.    Perasaan adalah suatu aktivitas unsur kejiwaan berupa pengalaman yang bersifat afektif yang dihayati dan diwujudkan berupa seorang atau tidak senang.
8.    Kemauan yaitu potensi kejiwaan yang dapat berupa kehendak untuk merealisasikan suatu tujuan.

F.    Fokus PBM ( Proses Belajar Mengajar )

PBM dilakukan oleh pelaku utama interaksi kelas (guru dan siswa)  dengan fokus pembelajaran pada :
a.    Berfokus pada peserta didik.
b.    Mengembangkan peserta didik.
c.    Menciptakan kondisi yang menyenangkan dan yang menantang.
d.    Mengembangkan beragam kompetensi yang beermuatan nilai. Menyangkut masalah karakter. Tugas guru didalam kelas meliputi 5 M, yaitu :
    Mengajar (menjelaskan)
    Mendidik (perilaku)
    Membina (membantu)
    Membimbing (mengarahkan)
    Melatih (memperagakan)
e.    Menyediakan pengalaman belajar yang beragam.
f.    Belajar melalui berbuat.

G.    Soft Skile

1.    Kemampuan berkomunikasi secara kontekstual ( berdasarkan kondisinya ).
2.    Kemampuan berekspianasi ( kemampuan menjelaskan ).
3.    Kemampuan metologis ( kemampuan mengatasi masalah dengan berbagai cara ).
4.    Kemampuan bekerjasama.
5.    Kemampuan beradaptasi.
6.    Toleran.
7.    Hormat terhadap sesuatu.
8.    Kemampuan mengambil keputusan.
9.    Kemampuan memecahkan masalah.

H.    Karakteristik Pembelajaran

Berdasarkan teori-teori belajar diketahui bahwa komunikasi didalam pembelajaran memiliki karakteristik yang secara khusus berbeda dengan peristiwa komunikasi pada kegiatan yang lain. Karakteristik pembelajaran tersebut sebagai berikut :
1.    Menekankan pembelajaran yang bermakna.
2.    Menggunakan metode dan media yang berfariasi.
3.    Menempatkan peserta didik sebagai subjek belajar.
4.    Memberikan pengalaman belajar yang kaya berupa pengetahuan konsep, cara pemecahan masalah, dan menemukan hal-hal yang baru.
5.    Memberika keseimgangan antara kegiatan flasikal, kelompok dan individual.
6.    Memberikan keseimbangan antara teori dan praktek dikelas maupun diluar kelas.
7.    Memprioritaskan suasana pembelajaran yang aktraktif, motivatif dan bersahabat.

I.    Metode Pembelajaran
Metode yang baik adalah metode yang sesuai dengan tujuan dan materi pembelajaran.Ada 3 metode yang direkomendasikan oleh pakar sehingga mampu mencapai tujuan dan pengembangan materi secara optimal dan maksimal.
1.    Contextual Teaching Learning ( CTL )
2.    Comperative Learning
3.    Discovery Ingiury Learning
Ciri-ciri dari setiap komponen diatas yaitu sebagai berikut :
1.    CTL
Adapun komponen CTL adalah sebagai berikut :
a.    Konstruktivis yaitu membantu pemahaman anak sendiri dari pengalaman mereka berdasarkan pengetahuan awal,pembelajaran dikemas menjadi mengkontruksi ( menyusun pemahaman bukan penerima pengetahuan ).
b.    Ingiure yaitu proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman.
c.    Questioning yaitu anak di ajar dan dibimbing serta menilai sesuatu dengan menggnakan pertanyaan-pertanyaan.
d.    Learning Comunity ( masyatakat belajar ) yaitu anak di ajak bekerjasama dengan pihak lain dalam belajar,sehingga terjadi tukar pengalaman dan ide.
e.    Modelling yaitu proses penampilan melalui contoh sehingga anak dapat mempraktekannya pada konteks yang lain.
f.    Repleksi yaitu menggungkapkan kembali apa yang telah anak pelajari,misalnya membuat jurnal,berdiskusi atau meringkas.
g.    Penilaian Autentik.
2.    Conperative
Yaitu proses pembelajaran yang dimanfaatkan kelompok-kelompok siswa dalam memahami dan menyelesaikan topik pembelajaran.
3.    Disconery Inguiry
Yaitu penemuan berdasarkan penyelidikan anak dalam kegiatan pembelajaran dengan melibatkan proses mental anak melalui asimilasi suatu konsep ke dalam proses belajar.

PERKEMBANGAN KURIKULUM BAHASA INDONESIA SMP DAN SMA DI INDONESIA#

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Kurikulum adalah seperangkat rencana pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan pendidikan tertentu tersebut mencakup tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan, dan peserta didik. Oleh karena itu, kurikulum disusun oleh satuan pendidikan, untuk disesuaikan dengan program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi daerah.
Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang mengacu pada standar nasional pendidikan bertujuan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional. Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan. Dua unsur standar nasional pendidikan, yaitu Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL), merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang standar Nasional Pendidikan mengamankan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) jenjangpendidikan dasar dan menengah disusun oleh satuan pendidikan dengan mengacu kepada SI, SKL, dan panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) serta ketentuan lain yang menyangkut kurikulum dalam UU No. 20/2003 dan PP No. 19/2005

1.2    Rumusan Masalah
Adapun masalah yang akan diangkat pada pembahasan makalah ini adalah :
1.2.1    Pengertian kurikulum
1.2.2    Perkembangan kurikulum di Indonesia
1.2.3    Fungsi pengembangan kurikulum

1.3    Manfaat
1.3.1    Untuk mengetahui apa itu kurikulum
1.3.2    Untuk mengetahui perkembangan kurikulum di Indonesia
1.3.3    Mengetahui  fungsi pengembangan kurikulum


BAB II
PEMBAHASAN

2.1    Pengertian Kurikulum
Untuk mendapatkan rumusan tentang pengertian kurikulum, para ahli mengemukakan pandangan yang beragam. Dalam pandangan klasik, lebih menekankan kurikulum dipandang sebagai rencana pelajaran di suatu sekolah. Pelajaran-pelajaran dan materi apa yang harus ditempuh di sekolah, itulah kurikulum. George A. Beauchamp (1986) mengemukakan bahwa : “ A Curriculun is a written document which may contain many ingredients, but basically it is a plan for the education of pupils during their enrollment in given school”. Dalam pandangan modern, pengertian kurikulum lebih dianggap sebagai suatu pengalaman atau sesuatu yang nyata terjadi dalam proses pendidikan, seperti dikemukakan oleh Caswel dan Campbell (1935) yang mengatakan bahwa kurikulum … to be composed of all the experiences children have under the guidance of teachers. Dipertegas lagi oleh pemikiran Ronald C. Doll (1974) yang mengatakan bahwa : “ …the curriculum has changed from content of courses study and list of subject and courses to all experiences which are offered to learners under the auspices or direction of school.
Untuk mengakomodasi perbedaan pandangan tersebut, Hamid Hasan (1988) mengemukakan bahwa konsep kurikulum dapat ditinjau dalam empat dimensi, yaitu:
1.    kurikulum sebagai suatu ide; yang dihasilkan melalui teori-teori dan penelitian, khususnya dalam bidang kurikulum dan pendidikan.
2.    kurikulum sebagai suatu rencana tertulis, sebagai perwujudan dari kurikulum sebagai suatu ide; yang didalamnya memuat tentang tujuan, bahan, kegiatan, alat-alat, dan waktu.
3.    kurikulum sebagai suatu kegiatan, yang merupakan pelaksanaan dari kurikulum sebagai suatu rencana tertulis; dalam bentuk praktek pembelajaran.
4.    kurikulum sebagai suatu hasil yang merupakan konsekwensi dari kurikulum sebagai suatu kegiatan, dalam bentuk ketercapaian tujuan kurikulum yakni tercapainya perubahan perilaku atau kemampuan tertentu dari para peserta didik.

2.2    Perkembangan Kurikulum Di Indonesia

2.2.1    RENCANA PELAJARAN 1947
Kurikulum pertama yang lahir pada masa kemerdekaan memakai istilah leer plan ( dalam bahasa Belanda ) artinya rencana pelajaran, lebih popular ketimbang curriculum (bahasa Inggris). Asas pendidikan ditetapkan Pancasila. Rencana Pelajaran 1947 baru dilaksanakan sekolah-sekolah pada 1950.
2.2.2    KURIKULUM 1968
Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964, yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.
2.2.3    KURIKULUM 1975
Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan efektif. “Yang melatarbelakangi adalah pengaruh konsep di bidang manejemen, yaitu MBO (management by objective) yang terkenal saat itu,” kata Drs. Mudjito, Ak, MSi, Direktur Pembinaan TK dan SD Depdiknas.
2.2.4    KURIKULUM 1984
Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Meski mengutamakan pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering disebut “Kurikulum 1975 yang disempurnakan”. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL).
2.2.5    KURIKULUM 1994  dan  SUPLEMEN KURIKULUM 1999
Kurikulum 1994 bergulir lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya. “Jiwanya ingin mengkombinasikan antara Kurikulum 1975 dan Kurikulum 1984, antara pendekatan proses,” kata Mudjito menjelaskan.
2.2.6    KURIKULUM 2004
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) atau Kurikulum 2004, adalah kurikulum dalam dunia pendidikan di Indonesia yang mulai diterapkan sejak tahun 2004 walau sudah ada sekolah yang mulai menggunakan kurikulum ini sejak sebelum diterapkannya. Secara materi, sebenarnya kurikulum ini tak berbeda dari Kurikulum 1994, perbedaannya hanya pada cara para murid belajar di kelas. Dalam kurikulum terdahulu, para murid dikondisikan dengan sistem caturwulan. Sedangkan dalam kurikulum baru ini, para siswa dikondisikan dalam sistem semester. Dahulu pun, para murid hanya belajar pada isi materi pelajaran belaka, yakni menerima materi dari guru saja. Dalam kurikulum 2004 ini, para murid dituntut aktif mengembangkan keterampilan untuk menerapkan IPTek tanpa meninggalkan kerja sama dan solidaritas, meski sesungguhnya antar siswa saling berkompetisi. Jadi di sini, guru hanya bertindak sebagai fasilitator, namun meski begitu pendidikan yang ada ialah pendidikan untuk semua. Dalam kegiatan di kelas, para siswa bukan lagi objek, namun subjek. Dan setiap kegiatan siswa ada nilainya.
2.2.7    KTSP 2006
Awal 2006 ujicoba KBK dihentikan. Muncullah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Pelajaran KTSP masih tersendat. Tinjauan dari segi isi dan proses pencapaian target kompetensi pelajaran oleh siswa hingga teknis evaluasi tidaklah banyak perbedaan dengan Kurikulum 2004. Perbedaan yang paling menonjol adalah guru lebih diberikan kebebasan untuk merencanakan pembelajaran sesuai dengan lingkungan dan kondisi siswa serta kondisi sekolah berada. Hal ini disebabkan karangka dasar (KD), standar kompetensi lulusan (SKL), standar kompetensi dan kompetensi dasar (SKKD) setiap mata pelajaran untuk setiap satuan pendidikan telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional.

2.3    Fungsi Pengembangan Kurikulum
Fungsi kurikulum identik dengan pengertian kurikulum itu sendiri yang berorientasi pada pengertian kurikulum dalam arti luas bagi pengembangan buku ajar, pengadaan media dan sarana, pengembangan staf, pengawasan dan pengujian. Maka fungsi kurikulum mempunyai arti sebagai berikut:
1.    Sebagai pedoman penyelenggaraan pendidikan pada suatu tingkatan lembaga pendidikan tertentu dan untuk memungkinkan pencapain tujuan dari lembaga pendidikan tersebut.
2.    Sebagai batasan dari program pendidikan (bahan pengajaran) yang akan dijalankan pada satu semester, kelas, maupun pada tingkat pendidikan tersebut.
3.    Sebagai pedoman guru dalam menyelenggarakan Proses Belajar Mengajar, sehingga kegiatan yang dilakukan guru dan siswa terarah kepada tujuan yang ditentukan.
Dalam aktivitas belajar mengajar, kedudukan kurikulum sangat krusial, karena dengan kurikulum anak didik akan memperoleh manfaat. Namun, di samping kurikulum bermanfaat bagi anak didik, ia juga mempunyai fungsi-fungsi lain sebagai berikut.
1.    Fungsi kurikulum dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan
Di Indonesia, ada empat tujuan pendidikan utama yang secara hierarkis dapat dikemukakan, yaitu tujuan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler, dan tujuan instruksional. Dalam pencapaian tujuan pendidikan yang dicita-citakan, tujuan-tujuan tersebut mesti dicapai secara bertingkat dan saling mendukung, sedangkan keberadaan kurikulum disini adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan (pendidikan).
2.    Fungsi kurikulum bagi pendidik
Adapun fungsi kurikulum bagi guru atau pendidik adalah sebagai pedoman kerja dalam menyusun dan mengorganisasikan pengalaman belajar para anak didik dan pedoman untuk mengadakan evaluasi terhadap perkembangan anak didik dalam rangka menyerap sejumlah pengalaman yang diberikan.
3.    Fungsi kurikulum bagi kepala/pembina sekolah/madrasah
Kepala sekolah merupakan administrator dan supervisor yang mempunyai tanggung jawab terhadap kurikulum. Fungsi kurikulum bagi kepala sekolah dan para pembina lainnya adalah sebagai berikut.
a)    Sebagai pedoman dalam mengadakan fungsi supervisi, yaitu memperbaiki situasi belajar.
b)    Sebagai pedoman dalam melaksanakan supervisi dalam menciptakan situasi untuk menunjang situasi belajar anak kearah yang lebih baik.
c)    Sebagai pedoman dalam melaksanakan supervisi dalam memberikan bantuan kepada guru atau pendidik agar dapat memperbaiki situasi mengajar.
d)    Sebagai seorang administrator yang menjadikan kurikulum sebagai pedoman untuk pengembangan kurikulum pada masa mendatang.
e)    Sebagai pedoman untuk mengadakan evaluasi atas kemajuan belajar mengajar.
4.    Fungsi kurikulum bagi orang tua
Bagi orang tua, kurikulum difungsikan sebagai bentuk adanya partisipasi orang tua dalam membantu usaha sekolah dalam memajukan putra-putrinya. Bantuan tersebut dapat berupa konsultasi langsung dengan sekolah/guru mengenai masalah-masalah yang menyangkut anak-anak mereka. Bantuan berupa pemikiran, materi dari orangtua atau masyarakat anak dapat melalui lembaga komite sekolah.
5.    Fungsi kurikulum bagi masyarakat dan pemakai lulusan sekolah/madrasah
Kurikulum suatu sekolah juga berfungsi bagi masyarakat dan pihak pemakai lulusan sekolah bersangkutan. Dengan mengetahui kurikulum suatu sekolah, masyarakat sebagai pemakai lulusan, dapat melaksanakan sekurang-kurangnya
a)    Ikut memberikan kontribusi dalam memperlancar pelaksanaan program pendidikan yang membutuhkan kerja sama dengan pihak orangtua dan masyarakat.
b)    Ikut memberikan kritik dan saran konstruktif demi penyempurnaan program pendidikan disekolah, agar lebih serasi dengan kebutuhan masyarakat dan lapangan kerja.


BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
Kurikulum setelah tahun 1945 meliputi : Kurikulum 1947, Kurikulum 1952 (Rentjana Pelajaran Terurai 1952), Kurikulum 1964 (Rentjana Pendidikan 1964), Kurikulum 1984, Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999, Kurikulum 2004 KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), Kurikulum 2006 KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).
Fungsi pengembangan kurikulum meliputi :
1.    Fungsi kurikulum dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan
2.    Fungsi kurikulum bagi pendidik
3.    Fungsi kurikulum bagi kepala/pembina sekolah/madrasah
4.    Fungsi kurikulum bagi orang tua
5.    Fungsi bagi masyarakat dan pemakai lulusan sekolah/madrasah

3.2    Kritik dan Saran
Sebagai penulis pemula, kami menyadari sepenuhnya bahwa tulisan (makalah) ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, adanya masukan atau kritikan yang bersifat konstruktif demi perbaikan tulisan ini sangat kami harapkan.
Melalui tulisan ini kami sarankan kepada pihak-pihak yang akan menjadikan makalah ini sebagai bahan rujukan untuk penyusunan tulisan (makalah) selanjutnya. Besar harapan, dengan makalah ini bisa menjadi nilai lebih untuk menata masa depan selanjutnya. 


DAFTAR PUSTAKA

Mulyasa. 2010. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Murniati, Andi. 2010. Pengembangan Kurikulum. Pekanbaru: Al-Mujtahadah Press
Sukmadinata,syaddih.2004.Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik.Bandung:PT Remaja

Kamis, 31 Oktober 2013

KETERKAITAN ANTARA TUJUAN, KEGIATAN, DAN PENILAIAN PERENCANAAN PENGAJARAN BAHASA INDONESIA DI SLTP/SLTA#

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kita panjatkan atas kehadirat Tuhan yang Maha Esa karena berkat limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nyalah sehingga penyusunan makalah yang berjudul “Keterkaitan Antara Tujuan, Kegiatan, dan Penilaian Perencanaan Pengajaran Bahasa Indonesia di SLTP dan SLTA” dapat terselesaikan dengan baik. Pembuatan makalah ini berhasil disusun berkat semangat dan kerja sama yang kuat didalam sebuah kelompok dengan berbekal ilmu pengetahuan yang seadanya serta referensi-referensi lainnya seperti  buku cetak, modul,  situs internet ataupun media-media bacaan lainnya.
Makalah ini disusun berdasarkan himbauan atau anjuran dari Drs. H. Zalili Sailan M.PD. selaku dosen kami pada mata kuliah Perencanaan Pengajaran Bahasa Indonesia, agar membuat makalah sebagai salah satu tugas kelompok, khususnya kelopmpok VI yang mampu memberikan mahasiswa dan mahasiswi informasi untuk dijadikannya penunjang mata kuliah tersebut. Oleh karena itu kami menyusun makalah ini secara sistematis dan sesuai dengan gaya bahasa yang mudah dipahami sehingga dapat menarik perhatian dan menambah minat baca siapapun dengan penyusunannya yang singkat, jelas, serta materinya yang padat untuk kemudian dijadikan sebagai bahan diskusi.
Namun demikian, kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih terdapat kekurangan dalam proses penyusunannya. Oleh karena itu, kami juga mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak, terutama dari dosen serta teman-teman mahasiswa lainnya demi terciptanya kesempurnaan dari makalah ini.


Kendari, 23 Oktober 2012


Tim Penyusun






BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Perencanaan adalah suatu proses dan cara berpikir yang dapat membantu menciptakan hasil yang diharapkan. Perencanaan yang dibuat merupakan antisipasi dan perkiraan terhadap proses yang akan dilakukan dalam pembelajaran, sehingga tercipta  situasi yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Menurut Akhlan dan Rahman (1997:7), karakteristik perencanaan pengajaran yang baik hendaknya mengandung prinsip sebagai berikut:
a.    Mengembangkan hubungan interaksi yang baik di antara sesama manusia, dalam hal ini siswa dan guru serta personal terkait.
b.    Merupakan suatu wahana atau wadah untuk mengembangkan segala potensi yang ada dan dimiliki oleh anak didik.
c.    Memiliki sikap objektif rasio (tepat dan masuk akal), komprehensif dan sistematis (menyeluruh dan tersusun rapi).
d.    Mengendalikan kekuatan sendiri, bukan didasarkan atas kekuatan orang lain,
Didukung oleh fakta dan data yang menunjang pencapaian tujuan yang telah di  dirumuskan.
e.    Fleksibel dan dinamis, artinya mudah disesuaikan dengan keadaan serta perkembangan ke arah yang lebih baik dan maju.
Setiap pembelajaran didahului dengan pembuatan rencana pengajaran yang meliputi
   
Program tahunan, semester dan persiapan mengajar. Rencana pengajaran disusun berdasarkan silabus dan disesuaikan dengan kalender pendidikan yang berlaku, jadwal mata pelajaran yang berlangsung dan sarana yang tersedia. Program tahunan merupakan rencana pembelajaran selama satu tahun disusun berdasarkan kurikulum yang disesuaikan dengan kalender pendidikan yang berlaku.

Proses belajar mengajar adalah suatu aspek dari lingkungan sekolah yang terorganisasi. Lingkungan ini diatur serta diawasi agar kegiatan belajar terarah sesuai dengan tujuan pendidikan. Pengawasan itu bertujuan untuk menentukan lingkungan belajar yang baik, lingkungan yang menantang dan merangsang siswa untuk belajar, memberikan rasa nyaman dan keluasan serta mencapai tujuan yang diharapkan.

B.    Masalah

    Adapun masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah Keterkaitan Antara Tujuan, Kegiatan, Dan Penilaian Perencanaan Pengajaran Bahasa Indonesia Di SLTP/SLTA
C.    Tujuan

    Untuk mengetahui pengertian tujuan, kegiatan, dan penilaian perencanaan pengajaran Bahasa Indonesia di SLTP/SLTA
    Untuk mengetahui keterkaitan antara tujuan, kegiatan, dan penilaian perencanaan pengajaran Bahasa Indonesia di SLTP/SLTA


















BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertian dan Tujuan Perencanaan Pengajaran
 Tujuan adalah sesuatu yang ingin dicapai dari suatu kegiatan. Tujuan kegiatan pembelajaran adalah hasil pembelajaran. Hasil pembelajaran bahasa adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap berbahasa yang dicapai warga belajar. Perencanaan tujuan berarti proses penyusunan sesuatu yang ingin dicapai dari suatu aktivitas. Perencanaan tujuan pembelajaran yakni proses penyusunan hal yang ingin dicapai dari kegiatan pembelajaran.

Sumber Tujuan Pembelajaran Tidak disangkal oleh semua perencana dan pengembang pembelajaran tentang pentingnya tujuan. Tujuan adalah sesuatu yang ingin dicapai. Pendapat Kemp yang didukung pendapat Dick dan Carey mendeskripsikan bahwa tujuan pembelajaran umum yakni langkah pertama dalam penyusunan perencanaan pembelajaran. Guru pun menyadari bahwa kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah pada dasarnya diarahkan untuk pencapaian tujuan. Hal ini dibenarkan oleh Dick dan Carey (1978:13) yang mengetengahkan pendapat tentang tujuan pembelajaran umum. Menurut ia identifikasi tujuan pembelajaran umum merupakan aktivitas yang pertama. Sumber tujuan pembelajaran umum dikemukakan Gafur (1982:34-35) ada empat, yakni kurikulum, pendapat ahli bidang studi, hasil analisis tugas, dan hasil observasi.

1)    Kurikulum

Kurikulum, dalam hal ini GBPP (Garis-Garis Besar Program Pengajaran) mengadung tujuan pembelajaran. Baik Kurikulum 1975, Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, maupun Kurikulum 2004 telah berorientasi pada tujuan yang ingin dicapai. Tujuan yang terdapat dalam GBPP itulah yang dijadikan sumber tujuan pembelajaran. Tujuan yang diharapkan oleh pembelajaran Bahasa Indonesia menurut Kurikulum: GBPP Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk SLTP tahun 1994 meliputi tujuan penguasaan kebahasaan, kemampuan memahami, dan menggunakan bahasa Indonesia, serta apresiasi sastra Indonesia.



2)    Pendapat Ahli Bidang Studi
 Seseorang dikatakan ahli apabila ia mahir, paham sekali dalam suatu ilmu. Ahli bahasa berarti orang yang mahir dalam pengetahuan bahasa. Dengan kemahirannya seorang ahli bahasa dapat menentukan rumusan-rumusan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai oleh warga belajar atau sekelompok warga belajar. Begitu halnya dengan ahli bidang studi bahasa. Ahli bidang studi Bahasa Indonesia dengan keahliannya banyak mengemukakan pendapat tentang tujuan pembelajaran bidang studi Bahasa Indonesia. Tidak sedikit pendapat ahli bidang studi Bahasa Indonesia diangkat dan digunakan menjadi rumusan tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia. Hal ini terbukti dengan banyaknya rumusan pembelajaran yang ditulis pada buku-buku pelajaran dan pembelajaran. Tujuan itu bukan rumusan pembelajaran yang dipetik dari Kurikulum (GBPP), tetapi benar-benar pendapat ahli bidang studi yang membuat tulisan. Dengan demikian, banyak orang yang memanfaatkan rumuran tujuan pembelajaran buah karya ahli bidang studi.
3)    Hasil Analisis Tugas
Penyelidikan terhadap sesuatu perbuatan dapat memperoleh rumusan tujuan perbuatan tersebut. Memang dalam penyelidikan semacam ini dapat diketahui keadaan yang sebenarnya, baik sebab-sebabnya, duduk perkaranya, maupun tujuannya. Hasil analisis suatu perbuatan dapat memunculkan tujuan yang ingin dicapai. Rumusan tujuan berdasarkan hasil analisis tugas memberi informasi kepada penganalisis.
Dengan menganalisis kegiatan seseorang dalam pelaksanaan tugas/pekerjaan tertentu, dapat diperoleh jawaban tujuan pelaksanaan tugas/pekerjaan tersebut.

4)    Hasil Observasi
Dalam pembuktian suatu hipotesis orang sering mengadakan observasi. Observasi pada dasarnya adalah suatu kegaiatan pengamatan atau peninjauan secara cermat. Orang dapat mengatakan benar berdasarkan hasil observasi, orang dapat mengatakan salah berdasarkan hasil observasi. Bahkan data hasil wawancara dan data hasil pengisian angket dapat digugurkan dengan data hasil observasi.
Observasi termasuk salah satu bentuk pengumpulan data yang dapat dipercaya. Dengan observasi orang dapat mengamati secara teliti sesuatu yang dikerjakan seseorang atau sekelompok orang dalam tugas tertentu. Dengan observasi kita dapat mengetahui dan memperoleh informasi tentang tujuan yang harus dicapai dalam mempelajari bidang tertentu.  Berdasarkan hasil observasi kita dapat merumuskan tujuan yang ingin dicapai oleh sesuatu kegiatan.

B.    Kegiatan Perencanaan Pengajaran Bahasa Indonesia
Perencanaan pengajaran merupakan suatu program bagaimana mengajarkan apa-apa yang sudah dirumuskan dalam kurikulum. Perencanaan pengajaran (instructional design) dapat dilihat dari berbagai sudut pandang yaitu :   1. Perencanaan pengajaran sebagai sebuah proses; 2. Perencanaan pengajaran sebagai sebuah disiplin; 3. perencanaan pengajaran sebagai sains (science); 4. perencanaan pengajaran sebagai realitas; 5.  perencanaan pengajaran sebagai suatu sistem; dan 6. perencanaan pengajaran sebagai teknologi.
Penyusunan program pengajaran sebagai sebuah proses, disiplin, ilmu pengetahuan, realitas, sistem dan teknologi pembelajaran bertujuan agar pelaksanaan pengajaran berjalan lebih lancar dan hasilnya lebih baik. Tujuan pendidikan ini mengacu pada tujuan pendidikan nasional sebagaimana dituntun oleh UUSPN No. 20 tahun 2003 bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman  dan bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

a)    Fungsi- Fungsi Manajemen dalam Pembelajaran
Manajemen pembelajaran diartikan sabagai usaha dan tindakan kepala sekolah sebagai pemimpin instructional di sekolah dan usaha maupun tindakan guru sebagai pemimpin pembelajaran di kelas dilaksanakan sedemikian rupa untuk memperoleh hasil dalam rangka mencapai tujuan program sekolah dan juga pembelajaran.
a)    Penerapan fungsi perencanaan dalam kegiatan pembelajaran
Dalam konteks pembelajaran, perencanaan dapat diartikan sebagai proses penyusunan materi pelajaran, penggunaan media pengajaran, penggunaan pendekatan atau metode pengajaran, dalam suatu alokasi waktu yang akan dilaksanakan pada masa satu semester yang akan datang untuk mencapai tujuan yang ditentukan.
b)     Penerapan Fungsi Pengorganisasian dalam Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pengorganisasian pembelajaran bagi tiap guru dalam institusi sekolah dimaksudkan untuk menentukan siapa yang akan melaksanakan tugas sesuai prinsip pengorganisasian, dengan membagi tanggung jawab setiap personal sekolah dengan  jelas sesuai bidang, wewenang, mata ajaran, dan tanggung jawabnya. Pengorganisasian pembelajaran meliputi aspek: 1. Menyediakan fasilitas; 2. Pengelompokan komponen pembelajaran dalam struktur sekolah secara teratur; 3.Membentuk struktur wewenang dan mekanisme koordinasi pembelajaran; 4. Merumuskan dan menetapkan metode dan prosedur pembelajaran; dan 5. Memilih, mengadakan latihan, dan pendidikan dalam upaya pertumbuhan jabatan guru dilengkapi dengan sumber-sumber lain yang diperlukan.
c)    Penerapan Fungsi Penggerakan dalam Kegiatan Pembelajaran
Penggerakkan dalam proses pembelajaran dilakukan oleh pendidik dengan suasana yang edukatif agar dapat melaksanakan tugas belajar dengan penuh antusias, dan mengoptimalkan kemampuan belajarnya dengan baik. Peran guru sangat penting dalam menggerakkan dan memotivasi para siswanya melakukan aktivitas belajar baik itu dilakukan di kelas, di laboratorium, di perpustakaan, praktek kerja lapangan, dan tempat lainnya yang memungkinkan para siswa melakukan kegiatan belajar. Sedangkan kepala sekolah sebagai pemimpin instruksional menggerakkan semua personel dan potensi sekolah untuk mendukung sepenuhnya kegiatan pembelajaran yang dikendalikan oleh guru dalam upaya membelajarkan anak didik.
d)    Penerapan Fungsi Pengawasan dalam Kegiatan Pembelajaran
Dalam konteks pembelajaran pengawasan dilakukan oleh kepala sekolah terhadap seluruh kelas apakah dengan sungguh-sungguh memberikan pelayanan kebutuhan pembelajaran. Pengawasan dalam perencanaan pembelajaran meliputi: 1. Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan, disbanding dengan rencana; 2. Melaporkan penyimpangan untuk tindakan koreksi dan merumuskan tindakan koreksi, menyusun standar-standar pembelajaran dan sasaran-sasaran; 3. Menilai pekerjaan dan melakukan tindakan koreksi terhadap penyimpangan-penyimpangan baik institusional satuan pendidikan maupun proses pembelajaran.
e)    Tenaga Kependidikan
Guru sebagai tenaga pendidik adalah seseorang atau sekelompok orang yang berprofesi mengelola kegiatan belajar dan mengajar serta seperangkat peran lainnya yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar mengajar yang lebih efektif, melalui transformasi. Tenaga pendidikan bertugas menyelenggarakan kegiatan mengajar, melatih, meneliti, mengembangkan, mengelola, dan memberikan pelayanan teknis dalam bidang pendidikan.







C.    Penilaian Perencanaan Pengajaran Bahasa Indonesia
Penilaian merupakan rangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.
Penilaian dalam KTSP adalah penilaian berbasis kompetensi, yaitu bagian dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan untuk mengetahui pencapaian kompetensi peserta didik yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Penilaian dilakukan selama proses pembelajaran dan/atau pada akhir pembelajaran. Fokus penilaian pendidikan adalah keberhasilan belajar peserta didik dalam mencapai standar kompetensi yang ditentukan. Pada tingkat mata pelajaran, kompetensi yang harus dicapai berupa Standar Kompetensi (SK) mata pelajaran yang selanjutnya dijabarkan dalam Kompetensi Dasar (KD). Untuk tingkat satuan pendidikan, kompetensi yang harus dicapai peserta didik adalah Standar Kompetensi Lulusan (SKL).
Ada empat istilah yang terkait dengan konsep penilaian yang digunakan untuk mengetahui keberhasilan belajar peserta didik, yaitu pengukuran, pengujian, penilaian, dan evaluasi.
    Pengukuran (measurement) adalah proses penetapan ukuran terhadap suatu gejala menurut aturan tertentu (Guilford, 1982). Pengukuran pendidikan berbasis kompetensi berdasar pada klasifikasi observasi unjuk kerja atau kemam¬puan peserta didik dengan menggunakan suatu standar. Pengukuran dapat menggunakan tes dan non-tes. Pengukuran pendidikan bisa bersifat kuantitatif atau kualitatif. Kuantitatif hasilnya berupa angka, sedangkan kualitatif hasilnya bukan angka (berupa predikat atau pernyataan kualitatif, misalnya sangat baik, baik, cukup, kurang, sangat kurang), disertai deskripsi penjelasan prestasi peserta didik.
    Pengujian merupakan bagian dari pengukuran yang dilanjutkan dengan kegiatan penilaian.
    Penilaian (assessment) adalah istilah umum yang mencakup semua metode yang biasa digunakan untuk menilai unjuk kerja individu atau kelompok peserta didik. Proses penilaian mencakup pengumpulan bukti yang menunjukkan pencapaian belajar peserta didik. Penilaian merupakan suatu pernyataan berdasarkan sejumlah fakta untuk menjelaskan karakteristik seseorang atau sesuatu (Griffin & Nix, 1991). Penilaian mencakup semua proses pembelajaran. Oleh karena itu, kegiatan penilaian tidak terbatas pada karakter¬istik peserta didik saja, tetapi juga mencakup karakteristik metode mengajar, kurikulum, fasilitas, dan administrasi sekolah. Instrumen penilaian untuk peserta didik dapat berupa metode dan/atau prosedur formal atau informal untuk menghasilkan informasi tentang peserta didik. Instrumen penilaian dapat berupa tes tertulis, tes lisan, lembar pengamatan, pedoman wawancara, tugas rumah, dan sebagainya. Penilaian juga diartikan sebagai kegiatan menafsirkan data hasil pengukuran atau kegiatan untuk memperoleh informasi tentang pencapaian kemajuan belajar peserta didik.
    Evaluasi (evaluation) adalah penilaian yang sistematik tentang manfaat atau kegunaan suatu objek (Mehrens & Lehmann, 1991). Dalam melakukan evaluasi terdapat judgement untuk menentukan nilai suatu program yang sedikit banyak mengandung unsur subjektif. Evaluasi memerlukan data hasil pengukuran dan informasi hasil penilaian yang memiliki banyak dimensi, seperti kemampuan, kreativitas, sikap, minat, keterampilan, dan sebagainya. Oleh karena itu, dalam kegiatan evaluasi, alat ukur yang digunakan juga bervariasi bergantung pada jenis data yang ingin diperoleh.
Pengukuran, penilaian, dan evaluasi bersifat bertahap (hierarkis), maksudnya kegiatan dilakukan secara berurutan, dimulai dengan pengukuran, kemudian penilaian, dan terakhir evaluasi.
1.    Prinsip Penilaian
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian hasil belajar peserta didik antara lain:
1)    penilaian ditujukan untuk mengukur pencapaian kompetensi;
2)    penilaian menggunakan acuan kriteria yakni berdasarkan pencapaian kompetensi peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran;
3)    penilaian dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan;
4)    hasil penilaian ditindaklanjuti dengan program remedial bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan;
5)    penilaian harus sesuai dengan kegiatan pembelajaran.

Penilaian hasil belajar peserta didik harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1)    Sahih (valid), yakni penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur;
2)    Objektif, yakni penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilai;
3)    Adil, yakni penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik, dan tidak membedakan latar belakang sosial-ekonomi, budaya, agama, bahasa, suku bangsa, dan jender;
4)    Terpadu, yakni penilaian merupakan komponen yang tidak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran;
5)    Terbuka, yakni prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan;
6)    Menyeluruh dan berkesinambungan, yakni penilaian mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik yang sesuai, untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik;
7)    Sistematis, yakni penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah yang baku;
8)    Menggunakan acuan kriteria, yakni penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan;
9)     Akuntabel, yakni penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya


2.    Teknik Penilaian
Berbagai macam teknik penilaian dapat dilakukan secara komplementer (saling melengkapi) sesuai dengan kompetensi yang dinilai. Teknik penilaian yang dimaksud antara lain melalui tes, observasi, penugasan, inventori, jurnal, penilaian diri, dan penilaian antarteman yang sesuai dengan  karakteristik kompetensi dan tingkat perkembangan peserta didik.
1)    Tes adalah pemberian sejumlah pertanyaan yang jawabannya dapat benar atau salah. Tes dapat berupa tes tertulis, tes lisan, dan tes praktik atau tes kinerja. Tes tertulis adalah tes yang menuntut peserta tes memberi jawaban secara tertulis berupa pilihan dan/atau isian. Tes yang jawabannya berupa pilihan meliputi pilihan ganda, benar-salah, dan menjodohkan. Sedangkan tes yang jawabannya berupa isian dapat berbentuk isian singkat dan/atau uraian. Tes lisan adalah tes yang dilaksanakan melalui komunikasi langsung (tatap muka) antara peserta didik dengan pendidik. Pertanyaan dan jawaban diberikan secara lisan. Tes praktik (kinerja) adalah tes yang meminta peserta didik melakukan perbuatan/mendemonstasikan/ menampilkan keterampilan.
2)    Observasi adalah penilaian yang dilakukan melalui pengamatan terhadap peserta didik selama pembelajaran berlangsung dan/atau di luar kegiatan pembelajaran. Observasi dilakukan untuk mengumpulkan data kualitatif dan kuantitatif sesuai dengan kompetensi yang dinilai, dan dapat dilakukan baik secara formal maupun informal. Penilaian observasi dilakukan antara lain sebagai penilaian akhir kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, serta kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan.
3)    Penugasan adalah pemberian tugas kepada peserta didik baik secara perorangan maupun kelompok. Penilaian penugasan diberikan untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur, dan dapat  berupa praktik di laboratorium, tugas rumah, portofolio, projek, dan/atau produk.
4)    Portofolio adalah kumpulan dokumen dan karya-karya peserta didik dalam bidang tertentu yang diorganisasikan untuk mengetahui minat, perkembangan prestasi, dan kreativitas peserta didik (Popham, 1999). Bentuk ini cocok untuk mengetahui perkembangan unjuk kerja peserta didik dengan menilai bersama  karya-karya atau tugas-tugas yang dikerjakannya. Peserta didik dan pendidik perlu melakukan diskusi untuk menentukan skor. Pada penilaian portofolio, peserta didik dapat menentukan karya-karya yang akan dinilai, melakukan penilaian sendiri kemudian hasilnya dibahas. Perkembangan kemampuan peserta didik dapat dilihat pada hasil penilaian portofolio. Teknik ini dapat dilakukan dengan baik apabila jumlah peserta didik yang dinilai sedikit. 
5)    Projek adalah tugas yang diberikan kepada peserta didik dalam kurun waktu tertentu. Peserta didik dapat melakukan penelitian melalui pengumpulan, pengorganisasian, dan analisis data, serta pelaporan hasil kerjanya. Penilaian projek dilaksanakan terhadap persiapan,  pelaksanaan, dan hasil.
6)    Produk (hasil karya) adalah penilaian yang meminta peserta didik menghasilkan suatu hasil karya. Penilaian produk dilakukan terhadap persiapan, pelaksanaan/proses pembuatan, dan hasil.
7)    Inventori merupakan teknik penilaian melalui skala psikologis yang dipakai untuk mengungkapkan sikap, minat, dan persepsi peserta didik terhadap objek psikologis.
8)    Jurnal merupakan catatan pendidik selama proses pembelajaran yang berisi informasi hasil pengamatan terhadap kekuatan dan kelemahan peserta didik yang berkait dengan kinerja ataupun sikap dan perilaku peserta didik yang dipaparkan secara deskriptif.
9)    Penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk menilai dirinya sendiri mengenai berbagai hal. Dalam penilaian diri, setiap peserta didik harus mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya secara jujur.
10)    Penilaian antarteman merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik mengemukakan kelebihan dan kekurangan temannya dalam berbagai hal secara jujur.

D.    Keterkaitan Antara Tujuan, Kegiatan, Dan Penilaian Perencanaan Pengajaran Bahasa Indonesia Di SLTP/SLTA
Tujuan adalah sesuatu yang ingin dicapai dari suatu kegiatan. Tujuan kegiatan pembelajaran adalah hasil pembelajaran. Hasil pembelajaran bahasa adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap berbahasa yang dicapai warga belajar. Perencanaan tujuan berarti proses penyusunan sesuatu yang ingin dicapai dari suatu aktivitas. Perencanaan tujuan pembelajaran yakni proses penyusunan hal yang ingin dicapai dari kegiatan pembelajaran.
Sumber Tujuan Pembelajaran Tidak disangkal oleh semua perencana dan pengembang pembelajaran tentang pentingnya tujuan. Tujuan adalah sesuatu yang ingin dicapai. Pendapat Kemp yang didukung pendapat Dick dan Carey mendeskripsikan bahwa tujuan pembelajaran umum yakni langkah pertama dalam penyusunan perencanaan pembelajaran. Guru pun menyadari bahwa kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah pada dasarnya diarahkan untuk pencapaian tujuan.

Secara harfiah kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris education; dalam bahasa Arab: At-Taqdir; dalam bahasa Indonesia berarti penilaian. Dengan demikian secara harfiyah dapat evaluasi pendidikan diartikan sebagai penilaian dalam bidang pendidikan atau penilaian mengenai hal yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan.
Adapun dari segi istilah, sebagaimana dikemukakan oleh Edwind Wandt dan Gerald W. Brown (1977) evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Apabila definisi Edwind Wandt dan Gerald W. Brown (1977) digunakan untuk memberi definisi tentang evaluasi pendidikan, maka evaluasi pendidikan itu dapat diberi pengertian sebagai suatu tindakan atau kegiatan (yang dilaksanakan dengan maksud untuk) atau suatu proses (yang berlangsung dalam rangka) menentukan nilai dari segala sesuatu dalam dunia pendidikan (yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan, atau yang terjadi di lapangan pendidikan). Atau singkatnya evaluasi pendidikan adalah kegiatan atau proses penentuan nilai pendidikan sehingga dapat diketahui mutu atau hasil-hasilnya.

Pengukuran untuk menilai inilah yang digunakan dalam dunia pendidikan.
Penilaian berarti menilai sesuatu. Sedangkan menilai adalah mengambil keputusan terhadap sesuatu dengan mendasarkan diri atau berpegang pada ukuran baik dan buruk, sehat atau sakit, pandai atau bodoh dan sebagainya. Jadi penilaian itu sifatnya adalah kualitatif.
Sedangkan evaluasi adalah mencakup dua kegiatan tadi, yaitu pengukuran dan penilaian. Evaluasi adalah kegiatan atau proses untuk menilai sesuatu. Untuk dapat menentukan nilai dari sesuatu yang sedang dinilai itu dilakukanlah pengukuran, dan wujud dari pengukuran itu adalah pengujian, dan pengujian inilah yang dalam dunia kependidikan dikenal dengan istilah tes.
Lebih lanjut dikatakan bahwa istilah penilaian mempunyai arti yang lebih luas di bandingkan dengan istilah pengukuran. Sebab pengukuran itu sebenarnya hanyalah merupakan suatu langkah atau tindakan yang kiranya perlu diambil dalam rangka pelaksanaan evaluasi. Dikatakan “perlu diambil” karena tidak semua penilaian itu harus senantiasa di dahului oleh tindakan pengukuran secara lebih nyata.
Dalam rangka mempertegas perbedaan pengukuran dengan penilaian Wandt dan Brown mengatakan bahwa, pengukuran adalah suatu tindakan atau proses untuk menentukan luas atau kuantitas dari sesuatu; ia akan memberikan jawaban atas pertanyaan How much?. Adapun penilaian atau evaluasi adalah tindakan atau proses untuk menentukan nilai dari sesuatu, dan akan memberikan jawaban atas pertanyaan, What value?.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Tujuan kegiatan pembelajaran adalah hasil pembelajaran. Hasil pembelajaran bahasa adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap berbahasa yang dicapai warga belajar. Perencanaan tujuan berarti proses penyusunan sesuatu yang ingin dicapai dari suatu aktivitas. Perencanaan tujuan pembelajaran yakni proses penyusunan hal yang ingin dicapai dari kegiatan pembelajaran.
Penilaian berarti menilai sesuatu. Sedangkan menilai adalah mengambil keputusan terhadap sesuatu dengan mendasarkan diri atau berpegang pada ukuran baik dan buruk, sehat atau sakit, pandai atau bodoh dan sebagainya. Jadi penilaian itu sifatnya adalah kualitatif.
Sedangkan evaluasi adalah mencakup dua kegiatan tadi, yaitu pengukuran dan penilaian. Evaluasi adalah kegiatan atau proses untuk menilai sesuatu. Untuk dapat menentukan nilai dari sesuatu yang sedang dinilai itu dilakukanlah pengukuran, dan wujud dari pengukuran itu adalah pengujian, dan pengujian inilah yang dalam dunia kependidikan dikenal dengan istilah tes.

B.    Saran
Sebagai penulis pemula, kami menyadari sepenuhnya bahwa tulisan (makalah) ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, adanya masukan atau kritikan yang bersifat konstruktif demi perbaikan tulisan ini sangat kami harapkan.
Melalui tulisan ini kami sarankan kepada pihak-pihak yang akan menjadikan makalah ini sebagai bahan rujukan untuk penyusunan tulisan (makalah) selanjutnya. Besar harapan, dengan makalah ini bisa menjadi nilai lebih untuk menata masa depan selanjutnya. 

Jantung Segitiga Karang Dunia#

Surga di atas lautan adalah hal yang biasa. Namun bagaimana bila ternyata ada surga di bawah laut? Tentu ini adalah hal yang tidak biasa. Kebanyakan orang  sering kali terhipnotis dengan keindahan alam mulai dari area persawahan, perkebunan, taman, hewan, tanaman, dll. Namun mereka tidak pernah menyadari bahwa ternyata ada tempat yang tidak kalah menariknya dari tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi. Yang juga dipenuhi oleh tanaman, hewan, dan bebatuan yang tidak akan menjenuhkan mata saat memandangnya.
Hanya saja tempatnya dikelilingi oleh air laut. Tapi semua itu akan terbayarkan saat mata melihat keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Terumbu karangnya yang beranekaragam, segala jenis hewan laut dapat kita jumpai di sana, dan tidak ketinggalan juga pemandangan saat sang mentari mulai terbenam di ufuk barat. Semuanya itu akan membuat mata tidak akan pernah berkedip sekalipun. Dan hal itu hanya bisa kita jumpai di Kabupaten Wakatobi.
Mungkin kita tidak akan asing lagi mendengar kata Wakatobi. Apalagi untuk para wisatawan lokal maupun wisatawan dari manca negara. Para pelancong yang berkunjung ke wakatobi tidak lain adalah untuk menyaksikan secara langsung keindahan terumbu karangnya yang sekarang telah di kenal di beberapa negara. Di tambah lagi jalur transportasi yang mulai memadai. Hal ini tentu akan memudahkan para tamu undangan untuk masuk ke salah satu taman wisata nasional ini.
Hampir 800 spesies terumbu karang dimiliki oleh Kabupaten Wakatobi. Hal ini menyebabkan Wakatobi merupakan tempat pariwisata yang memiliki jumlah terumbu karang terbanyak di dunia. Meski hanya hanya memiliki 700 lebih spesies terumbu karang, namun tempat ini telah menyihir ribuan orang yang ada di dalam negeri maupun di luar negeri untuk menikmati keindahan alam bawah laut yang satu ini.
Wakatobi terkenal dengan slogannya, Surga Nyata Bawah Laut di Jantung Segitiga Karang Dunia. Ini disebabkn Indonesia dikelilingi oleh Filipina, Malaysia, Papua Nugini, Timor Leste dan Kepulauan Solomon yang memiliki 600 spesies koral, atau 75% populasi koral dunia, yang menjadikannya kawasan terumbu karang dengan keragaman hayati tertinggi di dunia. Dan Wakatobi tepat berada di tengah-tengahnya sebagai jantung segitiga karang dunia.
Selain itu ada info lain, bagi   yang memiliki hobi snorkeling dan diving, maka bulan Maret hingga Desember adalah musim yang tepat untuk menyelami perairan spektakuler Wakatobi. Sedangkan pada bulan-bulan Juli dan Agustus, plankton kaya nutrisi yang tumbuh subur di perairan Wakatobi memancing munculnya hewan laut besar.   Namun perlu juga diantisipasi bahwa umumnya pada bulan-bulan itu air laut relatif lebih dingin dari biasanya, sedangkan jangkauan pandang bawah laut terbilang rendah.
Jadi yang berminat untuk mengunjungi Wakatobi, siapkan diri anda untuk sesuatu yang belum pernah anda lihat sebelumnya. Dan puaskan diri anda untuk menikmati surga bawah lautnya.

BELAJAR DAN PEMBELAJARAN#



A.    Pengertian Belajar :
1 Upaya untuk mengetahui
Tahu ( mengerti , paham , atau sesuatu objek mampu kita pahami baik beraspek abstrak atau sesuatu yang beraspek konkrit ).
2 Upaya untuk menguasai
Menguasai aspek-aspek yang terdapat didalam suatu pokok permasalahan,dan menguasai betul-betul apa yang sedang menjadi pembahasan.
3 Upaya untuk memahami
Yakni unsur pengetahuan dan penguasaan dari sesuatu ,namun tidak hanya mengetahuinya saja tetapi banyak alternatif lainya yang dipahami.

B.    Pengertian Pembelajaran :
Suatu proses yang dilakukan sacara sistematis perihal belajar dalam rangka mencapai suatu tujuan melalui upaya belajar.
Ada 3 teori yang mendasari seorang anak dalam proses belajar, didalam belajar terdapat hal-hal yang mendasar yang merupakan pandangan tentang bagaimana seseorang berhasil mengetahui , menguasai , dan memahami sesuatu. Ketiga teori tersebut adalah sebagai berikut :
a)    Aliran Nativisme ( Watson )
Pandangan ini menyatakan bahwa semua anak yang lahir telah memiliki potensi , bakat , dan minat yang dibawah sejak lahir, sehingga anak yang belajar hanyalah mengembangkan potensi yang sudah ada.

b)    Aliran Empirisme ( John Coeke )
Pandangan ini menyatakan bahwa seorang anak yang lahir seperti kertas kosong  tetapi mereka dipengaruhi oleh lingkunganya,apabila nak berada dalam lingkungan tertentu,maka lingkungan itulah yang mempengaruhinya. Dalam konteks belajar peran pendidik ( guru ),orang tua atau tutor dengan berbagai kondisi lingkungan sangat menentukan proses penguasaan dan pemahaman anak , dengan kata lain lingkunganlah yang membentuk pribadi dan kompetensi anak.

c)    Aliran Konvergensi ( Williem Stren )
Aliran ini menyatakan bahwa,setiap nak yang lahir telah membawah potensi dan dikembangkan oleh lingkunganya. Aliran ini memadukan pandangan Nativisme dan Empirisme yang kemudian dikembangkan menjadi teori belajar individual dan kelompok. Ketika anak percaya bahwa anak yang belajar memiliki 3 modalitas belajar yang memungkinkan mereka terbantu didalam menguasai dan memahami berbagai hal, ketiga modalitas tersebut adalah sebagai berikut :
1 Modalitas Visual
Yaitu yang berhubungan dengan kemampuan anak  menggunakan penglihatanya didalam menguasai sesuatu.
2 Modalitas Audial
Yaitu yang berhubungan dengan kemampuan anak  menggunakan penyimakanya dalam menguasai sesuatu.
3 Modalitas Kinestetik
Yaitu yang berhubungan dengan kemampuan anak menngunakan alat geraknya atau peragaa didalam memahami sesuatu.
Selain pandangan tersebut didalam belajar dan pembelajaran pandangan KI HAJAR DEWANTARA yang mengembangkan bahwa anak yang belajar perlu didorong , desemangati , dan diberikan contoh-contoh, yaitu :
1)    Ing Ngarso Sungtulodo ( kalau kita didepan kita harus memberikan contoh )
2)    Ing Madya Mang Karso ( kalau kita ditengah kita harus memberikan semangat )
3)    Tut Wuri Handayani (kalau kita dibelakang,maka kita harus memberikan dorongan)


C.    Jenis-Jenis Teori Pembelajaran
Terdapat  4 teori belajar yang dijadikan sebagai landasan didalam melaksanakan pelajaran:
1.    Teori behaviorisme mengatakan belajar itu adalah aktivitas setiap individu yagn berdasarkan pada pendalaman atau pembiasaan.
2.    Teori kognitivisme mengatakan belajar merupakan proses mengubah tingkah laku yang di tentukan oleh pemahaman (persepsi).
3.    Teori psikososial mengatakan bahwa belajar adalah suatu proses alami yang di tandai dengan rasa ingin tahu, menyerap informasi, mengambil keputusan dan memecahkan masalah yang ada didalam kehidupan manusia.
4.    Teori belajar gagne. Teori ini memadukan antara pandangan behaviorisitk dengan kognitifisik.

D.    Prinsip Pendekatan Belajar

Prinsip pendekatan belajar yaitu sebagai berikut :
1.    Pendekatan konsep yaitu pendekatan dimana guru yang banyak menentukan arah pembelajran yang didasarkan pada pandangan-pandangan atau konsep.
2.    Pendekatan proses yaitu siswa dilibatkan secara aktif didalam intfraksi belajar mengajar.
3.    Pendekatan deduktif yaitu menjelaskan sesuatu dari yang umum ke yang khusus.
4.    Pendekatan induktif yaitu memberikan penjelasan-penjelasan sampai ke contoh-contoh pada peserta didik. Mencoba membedakan hal-hala yang paling kecil dan contoh-contoh.
5.    Pendekatan ekspositori yaitu sesuatu yang bersifat bersama-sama. Suatu proses selalu bersama berbicara antara guru dan siswa.
6.    Pendekatan heuristik yaitu anak-anak yang selalu terlebih dahulu memulai. Akan tetapi anak-anak harus diberikan referensi yang mudah dimengerti agar siswa tidak berfikir terlalu jauh.
7.    Pendekatan kecerdasan yaitu mengetahui tingkatan IQ siswa.
8.    Pendekatan kontekstual yaitu bahwa semua pembelajaran harus dihubungkan dengan suasana lingkungan.


E.    Aktivitas Belajar
Didalam belajar terdapat keaktifan Baik secara fisik maupun secara psikis. Hal-hal yang aktif dalam prosesbelajar baik secara indrawi maupun kejiwaan,beberapa ahli menyimpulkan sebagai berikut :
1.    Pengamatan indra yang meliputi
a. Penglihatan
b. Pendengaran
2.    Tanggapan yaitu suatu proses kejiwaan yang memberikan reaksi terhadap apa yang diperoleh dari suatu pengamatan yang dapat diterima atau ditolak,semakin banyak tanggapan dalam pembelajaran,maka semakin banyak juga pemahaman,tanggapan juga ditentukan oleh konteks ( bayang-bayang dari seseorang dari hasil pengalaman pengindraan ).
3.    Fantasi yaitu aktivitas imajinasi untuk membentuk  produksi tanggapan baru,berdasarkan tanggapan lama.
4.    Ingatan adalah reproduksi yang tersimpan didalam benak seseorang atau biasa juga disebut proses pengaktifan kembali, hal-hal yang pernah dialami proses ingatan terbagi 3 yaitu : mencamkan , menyimpan kesan , memproduksi kembali .
5.    Pikiran yaitu kondisi hubungan antara bagian pengetahuan yang ada, dalam diri yang dikontrol oleh akal,jadi akal itu mengendalikan pikiran .
6.    Perhatian,suatu aktivitas psikis yang berfokus pada sesuatu .
7.    Perasaan adalah suatu aktivitas unsur kejiwaan berupa pengalaman yang bersifat afektif yang dihayati dan diwujudkan berupa seorang atau tidak senang.
8.    Kemauan yaitu potensi kejiwaan yang dapat berupa kehendak untuk merealisasikan suatu tujuan.

F.    Fokus PBM ( Proses Belajar Mengajar )

PBM dilakukan oleh pelaku utama interaksi kelas (guru dan siswa)  dengan fokus pembelajaran pada :
a.    Berfokus pada peserta didik.
b.    Mengembangkan peserta didik.
c.    Menciptakan kondisi yang menyenangkan dan yang menantang.
d.    Mengembangkan beragam kompetensi yang beermuatan nilai. Menyangkut masalah karakter. Tugas guru didalam kelas meliputi 5 M, yaitu :
1 Mengajar (menjelaskan)
2 Mendidik (perilaku)
3 Membina (membantu)
4 Membimbing (mengarahkan)
5 Melatih (memperagakan)
e.    Menyediakan pengalaman belajar yang beragam.
f.    Belajar melalui berbuat.

G.    Soft Skile

1.    Kemampuan berkomunikasi secara kontekstual ( berdasarkan kondisinya ).
2.    Kemampuan berekspianasi ( kemampuan menjelaskan ).
3.    Kemampuan metologis ( kemampuan mengatasi masalah dengan berbagai cara ).
4.    Kemampuan bekerjasama.
5.    Kemampuan beradaptasi.
6.    Toleran.
7.    Hormat terhadap sesuatu.
8.    Kemampuan mengambil keputusan.
9.    Kemampuan memecahkan masalah.

H.    Karakteristik Pembelajaran

Berdasarkan teori-teori belajar diketahui bahwa komunikasi didalam pembelajaran memiliki karakteristik yang secara khusus berbeda dengan peristiwa komunikasi pada kegiatan yang lain. Karakteristik pembelajaran tersebut sebagai berikut :
1.    Menekankan pembelajaran yang bermakna.
2.    Menggunakan metode dan media yang berfariasi.
3.    Menempatkan peserta didik sebagai subjek belajar.
4.    Memberikan pengalaman belajar yang kaya berupa pengetahuan konsep, cara pemecahan masalah, dan menemukan hal-hal yang baru.
5.    Memberika keseimgangan antara kegiatan flasikal, kelompok dan individual.
6.    Memberikan keseimbangan antara teori dan praktek dikelas maupun diluar kelas.
7.    Memprioritaskan suasana pembelajaran yang aktraktif, motivatif dan bersahabat.

I.    Metode Pembelajaran
Metode yang baik adalah metode yang sesuai dengan tujuan dan materi pembelajaran.Ada 3 metode yang direkomendasikan oleh pakar sehingga mampu mencapai tujuan dan pengembangan materi secara optimal dan maksimal.
1.    Contextual Teaching Learning ( CTL )
2.    Comperative Learning
3.    Discovery Ingiury Learning
Ciri-ciri dari setiap komponen diatas yaitu sebagai berikut :
1.    CTL
Adapun komponen CTL adalah sebagai berikut :
a.    Konstruktivis yaitu membantu pemahaman anak sendiri dari pengalaman mereka berdasarkan pengetahuan awal,pembelajaran dikemas menjadi mengkontruksi ( menyusun pemahaman bukan penerima pengetahuan ).
b.    Ingiure yaitu proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman.
c.    Questioning yaitu anak di ajar dan dibimbing serta menilai sesuatu dengan menggnakan pertanyaan-pertanyaan.
d.    Learning Comunity ( masyatakat belajar ) yaitu anak di ajak bekerjasama dengan pihak lain dalam belajar,sehingga terjadi tukar pengalaman dan ide.
e.    Modelling yaitu proses penampilan melalui contoh sehingga anak dapat mempraktekannya pada konteks yang lain.
f.    Repleksi yaitu menggungkapkan kembali apa yang telah anak pelajari,misalnya membuat jurnal,berdiskusi atau meringkas.
g.    Penilaian Autentik.
2.    Conperative
Yaitu proses pembelajaran yang dimanfaatkan kelompok-kelompok siswa dalam memahami dan menyelesaikan topik pembelajaran.
3.    Disconery Inguiry
Yaitu penemuan berdasarkan penyelidikan anak dalam kegiatan pembelajaran dengan melibatkan proses mental anak melalui asimilasi suatu konsep ke dalam proses belajar.


Kamis, 24 Oktober 2013

BIARKAN KALI WANGGU MENGALIR#

Penimbunan kali adalah sesuatu yang biasa. Akan tetapi, kebiasaan tersebut akn membawa malapetaka bagi kehidupan manusia itu sendiri. Contohnya seperti banjir, longsor, dll. Kemarin, 6 oktober 2013 kali wanggu di samping asrama Khaerunnisa, lorong pelangi ditimbun oleh pemilik tanah. Hal ini diduga karena pemilik tanah tersebut berencana mendirikan asrama baru untuk dihuni oleh mahasiswa khususnya mahasiswa yang baru mendaftar di Universitas Halu Oleo (UHO). Ini sangat disayangkan, karena penimbunan kali wanggu akan membuat daerah ini rawan terhadap banjir. Banjir yang terjadi pada pertengahan tahun ini atau tepatnya 9 juni 2013, sangat membuat bingung warga sekitar. Pasalnya, kota Kendari selama beberapa tahun ini belum pernah kebanjiran. Apalagi sekarang Indonesia akan menghadapi musim penghujan. Hal ini akan membuat curah hujan di kota Kendari dan sekitarnya cukup tinggi. Potensi untuk banjir di kota Kendari pada penghujung tahun ini sangat tinggi. Karena selain curah hujan yang begitu tinggi, penimbunan kali yang dilakukan secara terus menerus, pengambilan pasir atau tanah sebagai bahan timbunan, dan limbah berupa sampah yang setiap hari diproduksi, ini akan menjadi faktor utama terjadinya banjir di daerah ini. Oleh karena itu, pemerintah harus memerhatikan faktor-faktor tersebut jika pemerintah tidak ingin tragedi banjir yang melanda kota Kendari dan sekitarnya terjadi lagi.

Aku dan Stan Bahasa#

Mendekorasi sebuah ruangan ternyata tidaklah mudah seperti yang kita bayangkan. Ini terjadi ketika saya dan teman-teman diberikan tanggung jawab untuk mendekor salah satu stan pada acara crisu-cupt UHO.  Semua berawal pada hari sabtu 12 Oktober 2013, stan yang masih berdindingkan tripleks akan kami sulap menjadi ruangan yang bisa memberi daya tarik bagi para pengunjung pada hari H nanti. Tiga hari kami berjibaku menghias stannya, mondar-mandir kesana kemari  membeli peralatan dan kami juga harus dihadapkan pada tantangan berat yakni mengangkat meja-meja di ruang ujian yang baru dilihat sudah terasa beratnya.
Pekerjaan mendekor stan hampir rampung. Namun ada kejadian yang banyak menyita perhatian kami dan para pendekor stan lainnya. Stan-stan yang masih kosong yang belum disentuh oleh para pendekornya hampir saja diterbangkan angin. Kami dengan sergap langsung mengambil tindakan dan mengamankan stand kami dari terjangan angin. Untung saja stan-stan tersebut saling mengait satu sama lain sehingga angin sangat sulit untuk mengobrak-abrik stan-stan yang ada.
Hari pembukaan crisu-cupt UHO dimulai pada hari rabu 16 Oktober 2013 tepatnya jam 02.30 waktu Kendari . kami diwajibkan untuk menjaga stan selama perhelatan dimulai. Lima hari kami harus tidur dan makan di stan, serta sekawanan nyamuk-nyamuk yang menghantui di kala kami tidur. Namun semua itu bukanlah suatu hambatan bagi kami karena hal ini juga merupakan pengalaman yang akan menguji kekompakan, kebersamaan dan kerja sama kami.
Tidak terasa, tibalah kami pada hari penutupan crisu-cupt UHO. Penutupan tersebut dilaksanakan pada hari sabtu 19 Oktober 2013 pukul 14.00 waktu Kendari. Kami yang pertama membongkar stan dan memulangkan barang-barang yang telah kami ambil ke asalnya. Selama 1 minggu kami meluangkan waktu, tenaga, dan harta untuk bersama-sama mendekor stan. Panas dan dingin telah kami rasakan bersama di stan tersebut. Akan tetapi, semua yang  melelahkan dan banyak menyita waktu kami menjadi kesan tersendiri buat kami. Kebersamaan, kerja sama, dan kekompakan adalah sesuatu yang tidaklah mudah, tapi kami melewati itu semua dengan wajah yang begitu puas melihat hasil kerja kami yang cukup membanggakan.

Senin, 07 Oktober 2013

Pemilihan Ketua HMPS PBSI#

Selasa, 24 November 2013 telah terjadi kekacauan antar mahasiswa. Kekacauan tersebut terjadi di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, tepatnya di gedung C bahasa. Kejadian ini bermula dari pemilihan ketua HMPS baru periode 2013/2014 yang hanya menampilkan 2 kandidat saja. Awalnya pemilihan berlangsung dengan tertib tanpa ada kendala yang berarti. Pemilihan dilakukan pada jam 11 sampai selesai. Suasana mulai memanas ketika perhitungan suara dimulai. Masing-masing pendukung kandidat bersorak-sorak saat kartu suara dibacakan. Setalah perhitungan suara selesai, ternyata kandidat kedua menang terhadap kandidat pertama yang selisih suaranya hanya 2 suara. Pendukung dari kandidat 2 bersorak gembira mendengar pilihannya keluar sebagai pemenang. Mendengar hal itu, salah seorang pendukug kandidat mengeluarkan parang. Dengan sergap diapun diamankan oleh para senior-senior bahasa.
Kejadian ini tentu akan merusak nama baik dari HMPS itu sendiri. Pemilihan yang harusnya bisa berlangsung dengan baik hingga perhitungan suara selesai, namun kenyataannya ada juga oknum-oknum tertentu yang berusaha untuk merusak nama HMPS PBSI. Ini menjadi pelajaran bagi mahasiswa bahasa agar ke depannya hal tersebut tidak terulang lagi saat pemilihan ketua HMPS yang baru berikutnya.


KEMAMPUAN MENULIS TEKS PIDATO SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 NAPABALANO#




NAMA                                 : HIKMAH
NOMOR STAMBUK         : A1D1 08 013
PROGRAM STUDI            : PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JUDUL PENELITIAN        : KEMAMPUAN MENULIS TEKS PIDATO SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 NAPABALANO
DOSEN PEMBIMBING    : Dr. H. Hilaluddin Hanafi, M. Pd. dan Lilik Rita Lindayani, S. Pd., M. Hum.
Tahun skripsi                       : 2012


ABSTRAK
Penelitian ini berjudul kemampuan menulis teks pidato siswa kelas X SMAN 1 Napabalano. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan menulis teks pidato siswa kelas X SMAN 1 Napabalano, yang kemudian diharapkan dapat memberi manfaat, yang salah satunya untuk memberikan informasi tentang kemampuan menulis teks pidato siswa kelas X SMAN 1 Napabalano. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan siswa kelas X SMAN 1 Napabalano tahun pelajaran 2011/2012 yang berjumlah 130 orang siswa, dan sampel dalam penelitian ini adalah 95 orang .
Kata kunci: menulis dan pidato


BAB I PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang

Menulis adalah kegiatan yang dilakukan seseorang untuk menghasilkan tulisan. Menulis merupakan segenap rangkaian kegiatan seseorang dalam rangkaian mengungkapkan gagasan dan menyampaikan dalam bahasa tulis kepada orang lain agar mudah dipahami.
Sebagai pengungkapan gagasan dari kegiatan menulis itu dapat dilakukan dengan cara menulis teks pidato. Menulis teks pidato merupakan salah satu bentuk kegiatan kreatif yang dilakukan oleh manusia untuk mengungkapkan segala ide dan gagasannya, baik itu dihadirkan dari proses berpikir ataupun dari realita kehidupan masyarakat lingkungan sekitar.
Pidato adalah ucapan yang tersusun dengan baik dan ditujukan kepada orang banyak. Pidato menjadi salah satu bagian kebudayaan umat manusia yang cukup dominan dalam menyampaikan informasi, mengabarkan sebuah pesan, menjelaskan ide-ide, menyebarluaskan pengetahuan atau menjelaskan penemuan-penemuan mereka kepada orang lain untuk diikuti dan sebagainya. Berpidato merupakan seni percakapan atau seni  berkata-kata yang didukung dengan wawasan keilmuan yang luas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Salah satu jenis menulis yang penting dikuasai oleh siswa adalah menulis pidato. Menulis pidato dikatakan penting karena siswa dilatih dan dituntut untuk berpikir logis dan kritis sebab dasar pidato adalah berpikir kritis dan logis (Keraf, 1999:3).

1.2    Kajian Pustaka
1.2.1    Konsep Menulis

Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambing-lambang grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafis tersebut kalau memahami bahasa dan grafis itu. Gambar atau lukisan mungkin dapat menyampaikan makna-makna, tetapi tidak menggambarkan kesatuan bahasa. Menulis merupakan representasi bagian dari ekspresi bahasa. Hal ini merupakan perbedaan utama antara menulis dan melukis (Tarigan, 1985:20).
Parera (1987:4) menyatakan bahwa yang termaksud dalam keterangan menulis dan membahasakan adalah keterangan membaca ejaan, tanda baca, pembentukan kata, penggunaan kalimat, pemilihan kata, pengefektifan kalimat, dan membahasakan dengan cermat,tepat, logis, fdan konsisten.

1.2.2    Pidato
1.2.2.1    Pengertian Pidato

Pidato adalah suatu bentuk komunikasi, pembicara menyampaikan terjadi keterlibatan dari pembicara, pendengar, bunyi, efek, konteks, pesan, dan media yang menyampaikan penyajian kemasan pesan yang dirancang (Suhanding, 2009:28).
Pidato yang baik akan dapat memberikan suatu kesan positif bagi orang-orang yang mendengar pidato tersebut. Kemampuan berpidato atau berbicara yang baik di depan publik/umum dapat membantu untuk mencapai jenjang karir yang baik. Unsur yang berhubungan dalam pidato yaitu pembicara, pendengar, dan situasi.

1.2.2.2    Tujuan pidato
Menurut Lagousi (1986:31-37) bahwa tujuan pidato pada umumnya melakukan satu atau beberapa hal berikut ini:
1)    Memengaruhi orang lain agar mau mengikuti kemauan kita dengan suka rela.
2)    Memberi suatu pemahaman atau informasi pada orang lain.
3)    Membuat orang lain senang dengan pidato yang menghibur sehingga orang lain senang dan puas dengan ucapan yang kita sampaikan.

1.2.2.3    Ciri-ciri pidato yang baik
Hakim (2010:33-38) mengemukakan bahwa pidato yang baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1)    Mengandung tujuan yang jelas
2)    Isi pidato mengandung kebenaran
3)    Cara penyampaiannya sesuai dengan kondisi pendengar
4)    Penyampaian jelas dan menarik
5)    Akurasi materi
6)    Kejelasan materi
7)    Relevansi materi
8)    Hindari hidden context

BAB II METODE PENELITIAN
1.1    Metode dan Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Deskriptif yaitu mendeskripsikan data penelitian secara objektif tentang kemampuan menulis teks pidato siswa kelas X SMA Negeri 1 Napabalano, sedangkan kuantitatif maksudnya data yang terkumpul diolah berdasarkan prinsip-prinsip statistik.
Ditinjau dari jenisnya, penelitian ini dikategorikan peneltian sekolah. Dikatakan demikian, karena data penelitian ini diperoleh di sekolah dengan keterlibatan langsung peneliti ke sekolah tempat penelitian.

1.2    Populasi dan Sampel Penelitian
1.2.1    Populasi Penelitian

Populasi penelitian ini adalah keseluruhan siswa kelas X SMA Negeri 1 Napabalano yang terdaftar tahun 2011/2012. Sesuai dengan observasi yang dilaksanakan, jumlah keseluruhan siswa teks pidato siswa kelas X adalah sebanyak 130 orang yang terbagi dalam 5 kelas.

1.2.2    Sampel Penelitian
Karakteristik populasi ini bersifat heterogen. Dikatakan heterogen karena kemampuan siswa kelas X SMA Negeri 1 Napabalano berbeda-beda atau bervariasi dalam menulis teks pidato. Dari jumlah 130 populasi yang disebutkan tersebar pada 5 kelas yakni X1-X5 akan ditarik sampel sebanyak 95 siswa atau 5% taraf kesalahan dari populasi. Hal ini berdasarkan pandangan Isaak dan Michael (Sugiyono, 2006:97-98). Teknik yang digunakan dalam penarikan sampel ini menggunakan teknik Propotionate Stratified Random Sampling yaitu mengambil sampel secara acak dari keterwakilan masing-masing strata keseluruhan populasi.

1.2.3    Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes kemampuan menulis teks pidato. Siswa diberi kebebasan memilih sendiri topik pidato yang telah disediakan, sesuai dengan pengetahuan dan kemampuan masing-masing dengan memerhatikan struktur penulisan pidato atau berdasarkan kerangka pidato yang sudah disiapkan. Adapun yang dilakukan siswa adalah menulis sebuah teks pidato dengan topik yang ada dengan memilih salah satu yang diinginkan berdasarkan pengetahuan dan wawasan terhadap topik yang telah dipilihnya. Tes ini dilakukan dalam satu kali pertemuan atau 2x45 menit (2 jam pelajaran).

1.2.4    Teknik Pengumpulan Data
Data yang diperoleh dari hasil tulisan siswa setelah terkumpul, diolah untuk menentukan tulisan yang bercorak teks pidato, setelah itu diamati sesuai dengan aspek yang diteliti. Adapun langkah-langkah yang dilakukan meliputi:
1)    Peneliti menyiapkan kerangka pidato yang akan disusun menjadi sebuah teks pidato.
2)    Siswa menyiapkan alat-alat tulis yang mendukung kegiatan menulis teks pidato.
3)    Peneliti memberikan sedikit materi pengantar tentang menulis sebuah teks pidato selama 10-15 menit.
4)    Guru dan peneliti membagikan lembar kerja.
5)    Siswa diberi kesempatan untuk menulis teks pidato berdasarkan kerangka yang disiapkan.
6)    Setelah waktu yang diberikan selesai, lembar kerja siswa dikumpul.

1.2.5    Teknik Analisis Data
Data yang dikumpulkan, selanjutnya diolah dengan menggunakan teknik statistik deskriptif kuatitatif dengan presentasie. Analisis deskriptif dimaksudkan untuk menggambarkan hasil penelitian berdasarkan kenyataan objektif yang diperoleh di sekolah yaitu berupa hasil tes menulis teks pidato siswa kelas X SMA Negeri 1 Napabalano, penggunaan rancangan kuantitatif didasarkan atas pertimbangan bahwa apa yang dianalisis dalam hubungan antara satu dengan yang lain didukung dengan angka-angka untuk menandai tingkat kemampuan menulis teks pidato tersebut baik secara individual maupun secara klasikal.

BAB III PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
3.1    Deskripsi Kemampuan Menulis Teks Pidato setiap Aspek
3.1.1    Aspek kesesuaian Isi dengan Topik Pidato

Kemampuan menulis teks pidato siswa kelas X SMA Negeri 1 Napabalano pada aspek kesesuaian isi dengan topik pidato dapat dilihat pada table berikut.
Tabel 1
No.    Perolehan skor (x)    Nilai    Frekuensi (f)    Presentase
1    4    100    36    37,89%
2    3    75    52    54,74%
3    2    50    7    7,37%
4    1    25    -   
Jumlah        95    100%

Berdasarkan uraian rentang nilai dan skor, siswa dikatakan mampu secara klasikal dalam memahami aspek kesesuaian isi dengan topik dalam menulis teks pidato. Dikatakan demikian, karena presentase kemampuan klasikal yang dicapai oleh siswa kelas X SMA Negeri 1 Napabalano mencapai 92,63%. Hal tersebut berarti kemampuan klasikal lebih tercapai sebab mencapai kriteria kemampuan klasikal yang ditetapkan yakni 85%.

3.1.2    Aspek Kelengkapan Struktur Teks Pidato
Kemampuan menulis teks pidato siswa kelas X SMA Negeri 1 Napabalano pada aspek kelengkapan struktur  teks pidato dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2
No.    Perolehan skor (x)    Nilai    Fekuensi (f)    Presentase
1    4    100    71    74,74%
2    3    75    21    21,10%
3    2    50    3    3,16%
4    1    25    -   
            95    100%

Berdasarkan uraian rentang nilai dan skor, siswa dikatakan mampu secara klasikal dalam memahami aspek kesesuaian isi dengan topik dalam menulis teks pidato. Dikatakan demikian, karena presentase kemampuan klasikal yang dicapai oleh siswa kelas X SMA Negeri 1 Napabalano mencapai 96,84%. Hal tersebut berarti kemampuan klasikal telah tercapai sebab mencpai kriteria kemampuan klasikal yang ditetapkan yakni 85%.
3.1.3    Interprestasi Hasil Penelitian
Berdasarkan analisis presantase data yang dilakukan pada setiap anak aspek yang diteliti, dapat diketahui bahwa kemampuan menulis teks pidato siswa kelas X SMA Negeri 1 Napabalano dari setiap aspek yang diteliti menunjukan presentase atau hasil yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan siswa.

DAFTAR PUSTAKA
Hakim, Rachman. 2010. Kiat Jitu Mahir Pidato. Yogyakarta: Shira Media
Hendrikus, Dori Wuwur. 1990. Retorika. Yogyakarta: PT Kanisius
Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif R dan D. Bandung: Penerbit Alfabeta
Tarigan, Hendry Guntur. 1985. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa
Nurudin.2010. Dasar-Dasar Penulisan. Malang: UMM Pres